Rabu, 18 November 2011 - 23:26:21 WIB
Profesi Hukum - Legislative Drafter
Diposting oleh :
Kategori: - Dibaca: 2 kali

 

Jika di Kementerian Hukum dan HAM dikenal legal drafter atau tenaga suncang, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga punya legislative drafter. Malah di DPR tenaga bantuan bisa datang dari tenaga ahli komisi, staf ahli anggota DPR, dan tenaga peneliti pada P3I (Pusat Pengkajian dan Pelayanan Informasi) DPR. Melihat beragamnya tenaga ahli yang bisa dimanfaatkan anggota Dewan, maka patut dipertanyakan mengapa kinerja legislasi DPR merosot. 

  

UUD 1945 memberikan kekuasaan membentuk Undang-Undang kepada DPR. Dalam proses pembentukan Undang-Undang itu, DPR perlu membuat persetujuan bersama agar suatu Rancangan Undang-Undang bisa disahkan menjadi Undang-Undang. Pada saat masih menjadi rancangan atau berupa draft mentah itulah anggota DPR membutuhkan keahlian tenaga penyusun perundang-undangan. Sebab, tak semua anggota Dewan punya keahlian teknis membentuk Undang-Undang. Bukan hanya tak punya keahlian dari sisi formalitas, tetapi adakalanya juga tak memahami substansi.

 

Penggodokan suatu RUU pada dasarnya dilakukan di salah satu alat kelengkapan DPR, disebut Badan Legislasi (Baleg). Sesuai Undang-Undang No. 27 Tahun 2009, badan ini dibentuk untuk menjalankan fungsi legislasi. Dari sini, naskah RUU didistribusikan ke Panja atau Pansus yang mendapat amanat untuk membahasnya. Dalam proses pembahasan, DPR duduk bersama dengan wakil Pemerintah. Di sini tampak hubungan yang tidak seimbang. Wakil Pemerintah biasanya didampingi puluhan staf, termasuk orang biro hukum. Sebaliknya, anggota DPR hanya diback-up seorang tenaga ahli. Itu pun belum tentu ikut mendampingi anggota Dewan. Akibatnya, dalam proses pembahasan RUU, anggota DPR sering tak bisa menggali lebih mendalam isu tertentu. Anggota DPR hanya manggut mendengar penjelasan Pemerintah.

 

Dalam peluncuran bukunya ‘Pergeseran Fungsi Legislasi’, Prof. Saldi Isra menyinggung pentingnya mengoptimalkan fungsi legislasi DPR, termasuk mendorong kehadiran tenaga ahli perundang-undangan yang berkualitas. Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas menilai fungsi DPR tak maksimal. Karena itu, ia meminta dilakukan purifikasi legislasi. Minimnya tenaga ahli berpengaruh pada output perundang-undangan, bukan hanya pada jumlah tetapi juga pada kualitas.

 

Sebenarnya sejak 2008 silam, setiap anggota DPR sudah mendapatkan seorang tenaga ahli. Namun jumlah ini dirasakan masih kurang. Sebab, satu Komisi DPR membidangi beberapa mitra kerja. Komisi III bermitra dengan Polri, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Komisi Yudisial dan PPATK. Atau, Komisi II bukan hanya mengurusi pemilu, tetapi juga pertanahan dan administrasi negara. Dengan hitung-hitungan ini, seorang anggota DPR mengatakan butuh 3-6 tenaga ahli. Bandingkan dengan anggota Senat di Amerika Serikat yang dibantu puluhan staf.

 

Ketua Baleg, Ignatius Mulyono, mengakui pentingnya kehadiran tenaga ahli perundang-undangan. DPR akan terus mendorong peninkatan kualitas fungsi legislasi dengan menambah legislative drafter. Bahkan untuk tenaga ahli perundang-undangan, kata Mulyono, dipersyaratkan harus bergelar S2. “Terkait satu disiplin ilmu yang betul-betul dibutuhkan untuk kepentingan penyusunan rancangan UU. Memiliki pengalaman dari kinerjanya. Dedikasi penugasannya di DPR. Mempunyai kemampuan untuk menyampaikan paparan, pendapat, dan mampu membuat tulisan,” jelasnya.

 

Mulyono mengakui proses penyusunan inisiatif DPR banyak dibantu tenaga ahli. Baleg sendiri mengenal tiga jenis bantuan perancangan, yakni dari tenaga ahli, tenaga P3DI, dan legal drafter. Baleg memiliki 20 tenaga ahli, 7 orang legal drafter, dan 12 orang peneliti perundang-undangan. Meskipun nama panggilannya berbeda-beda, tugasnya nyaris sama. “Mereka semua mempersiapkan rumusan dari RDP-RDPU yang kita lakukan dengan para ahli maupun perguruan tinggi atau dengan kunjungan pejabat daerah, untuk nanti dirumuskan menjadi bahan penyusun naskah akademis, bahan untuk menyusun substansi undang-undang,” ujarnya.

 

Ditambahkan Mulyono, tidak hanya sekedar membantu para anggota dewan dalam menyusun sebuah UU saja, seorang tenaga ahli juga mengemban tugas untuk meneliti sebuah UU yang akan dibuat dan sekaligus menilai layak atau tidaknya UU tersebut untuk dibuat. “Kalau dari P3DI, mempelajari apakah UU ini sebetulnya bertentangan dengan UU yang lain apa belum. Atau ada UU pendukung dari rancangan UU yang kita susun. P3DI juga menentukan UU ini dibutuhkan atau tidak”.

 

P3DI pada dasarnya bertugas meneliti dan menentukan sebuah UU sudah layak atau belum, setelah sebelumnya, naskah akademis sebuah UU tersebut disusun dan dibuat sesuai dengan tata aturan yang benar oleh seorang legal drafter. “ Legal drafter, iya akan mempelajari struktur dari penyusunan UU itu sudah benar apa belum,” ungkapnya.

 

Setelah kedua tahap tersebut rampung, materinya disusun untuk disiapkan menjadi sebuah RUU untuk diajukan dan disahkan menjadi sebuah UU. Pekerjaan terakhir ini pun dilakukan oleh tenaga ahli. Tenaga ahli atau staf ahli bukan hanya ada di Baleg, tetapi juga dimiliki masing-masing anggota Dewan. Toh, tak semua memanfaatkan tenaga ahli sepenuhnya. Anggota Komisi I dari Fraksi PKB, Effendy Choirie, misalnya, mengaku tak mengoptimalkan tenaga ahli yang diberikan Setjen DPR. Ia beralasan partai juga sudah menyediakan staf yang bisa membantu. “Kami di-supply dari partai,” ujarnya.

 

Perpindahan seorang anggota Dewan dari suatu komisi ke komisi lain turut membuat tenaga ahli kurang maksimal. Misalnya, staf yang diberikan ke Gus Choi –begitu ia biasa disapa—tak terlalu memahami masalah pertahanan dan keamanan. Akibatnya, tenaga ahli yang disediakan tidak bisa bekerja maksimal.

 

Pengembangan

Untuk soal komposisi jumlah tenaga ahli di DPR, berkaca pada apa yang telah ada saat ini, menurut Ignatius Mulyono masih perlu dikembangkan. Bukan hanya dari segi jumlah saja, pengembangan juga perlu dilakukan dari segi lembaga dalam alat kelengkapan DPR saat ini. Pengembangan yang dimaksud Ignatius dalah hadirnya dua badan baru yaitu, Badan Pusat Legislasi dan Badan Perancang UU.

 

Kedua badan tersebut akan memberdayakan para staff ahli dan juga anggota dewan yang ada, untuk lebih fokus dan baik lagi dalam membuat sebuah UU. Badan Pusat Legislasi misalnya, menurut Ignatius, badan ini akan menjadi pusat riset dan penelitian untuk perbandingan dan acuan dalam membuat sebuah UU yang baru. “Nanti akan mempelajari dan mengikuti perkembangan legislasi, mulai dari tahun 1945 sampai sekarang. Akan dicoba diinventarisir, dia juga akan menilai, adanya UU yang harus dipertahankan atau tidak. Dia juga yang akan memprediksi tentang kepentingan pembuatan UU sampai tahun 2025”.

 

Mulyono berharap dengan kehadiran Badan Perancang, pembuatan grand design suatu UU baru bisa lebih baik dan rapih lagi dari sebelumnya. “Badan inilah yang akan mendesign draft naskah akademis dari RUU ini dengan mengkoordinir kinerja dari P3DI, kemudian legal drafter dan tenaga ahli dan para pakar terkait”.

 

Sumber : http://hukumonline.com/berita/baca/lt4c9b29d0564aa/legislative-drafter-dibutuhkan-untuk-topang-fungsi-legislasi-

 

 


    20 Komentar :

    mercifulpasseng30.jigsy.com
    13 Agustus 2017 - 12:44:43 WIB

    You really make it seem really easy together with
    your presentation but I find this matter to be really one thing that I think I'd by no means understand.
    It kind of feels too complex and very large for me.
    I am having a look ahead on your subsequent post, I will try to get the grasp of it!
    book translation service
    08 September 2017 - 13:46:54 WIB

    Businesses are erasing the boundaries between nations and as a outcome, communication play the
    essential role in expanding your reach as entrepreneur.
    Communication, in this be important, is the genius to translate between any language pair there is and the
    rewrite services increase has made it disinterested easier.
    You righteous be suffering with to coerce sure-fire the
    retinue you depute your decipherment offers objective
    serving, which can be verified by checking the reviews of the definite one.
    Technical Writing Vs Creative Writing by Palak Sharma
    22 September 2017 - 17:48:47 WIB

    This needs to be called 'how to over describe and overwrite.' The examples upheld as 'better' are actually not only melodramatic, but filled with cliches and lack any music.
    Simple, declarative sentences can leave far more resonance than some mental mess of words.
    Or shall I say, blizzard of BS.

    It all depends on context. Over-description is just another
    way of dumbing down the prose.
    The Word Point
    23 September 2017 - 08:10:21 WIB

    It has not till hell freezes over been easier to choose between the transportation services, as
    all consumer opinions and testimonials are gathered in one part of
    the country fitted you to pick the best. Levant peevish supremacy and as a conclude inadequate
    experience by consulting any transmission website reviews.
    Utterly written testimonials purpose example you through the dispose of
    of selecting the entire and but transfiguration usefulness that settle upon angry your needs.
    ENG 352 Technical Writing
    25 September 2017 - 07:39:02 WIB

    If any body wanna practice English Speaking
    Can add me on skype
    Ishan_Sharma_0007
    Citizenship Coursework
    25 September 2017 - 10:38:49 WIB

    Welp, I have 2 hours for that 10 page research paper.
    I think my procrastinating skills have reached mastery levels.


    ( >. <)
    Types Of Writing In English
    25 September 2017 - 15:52:33 WIB

    I wonder why all the good teachers exists in YouTube, from which planet are they from?

    And from which planet are my teachers from?????

    geezez.
    You summed up everything in 10min AND I understood it,
    and you made it seem easier, or well effectivier, which feels so motivating o__o thank you
    C++ Qt 74
    26 September 2017 - 02:01:45 WIB

    Blah , blah, blah, is blah, blah.
    Yadda, yadda, maybe yadda, yadda, yadda. Yadda is yadda,
    yadda, yadda, yadda. Yes, no? Uh huh is to. Yadda is, as yadda does.

    Iron American Dream on YouTube Share it. Take a ride across the promised land.
    Concession, located in those little kiosks.
    .
    WriteMyEssay.
    27 September 2017 - 06:05:04 WIB

    A writer is someone who writes. A novelist is someone who publishes their work, namely novels.
    Citizenship Coursework
    28 September 2017 - 12:21:06 WIB

    "The great idea does not make a great story. A terrible idea with a good writer makes a great story" - this is how Jim Butcher's Codex
    Alera was born. It was 2 horrible ideas - lost roman legion and pokemon - and it was a great story, in spite of the horrible ideas.
    He wrote the books on a bet proving that point.
    << First | < Prev | 1 | 2 | Next > | Last >>

    Isi Komentar :
    Nama :
    Komentar
     
     (Masukkan 2 kode diatas)

     

Download




Kegiatan


    ";
 

Gedung IV Lantai 2, Fakultas Hukum UGM
Jalan Sosio Justicia No. 1, Bulaksumur,Yogyakarta 55281
Telepon : 0274 512 781 ext 2113 E-Mail : lcdc@ugm.ac.id
Website : http://lcdc.law.ugm.ac.id